Kenapa Anak Muda Sering Overthinking? Ini Alasannya

Kenapa Anak Muda Sering Overthinking? Ini Alasannya

Anak muda sering disebut sedang berada di fase paling bebas dalam hidup. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Di balik kegiatan kuliah, kerja, nongkrong, scroll media sosial, dan mengejar mimpi, banyak anak muda diam-diam membawa isi kepala yang penuh. Pikiran tentang masa depan, karier, keuangan, hubungan, keluarga, pencapaian teman, sampai ekspektasi diri sendiri bisa menumpuk tanpa terasa.

Overthinking terjadi saat seseorang terlalu lama memikirkan sesuatu secara berulang, bahkan ketika belum ada solusi yang benar-benar muncul. Pikiran terasa muter di tempat yang sama, seperti memutar ulang percakapan, membayangkan skenario terburuk, atau menebak-nebak hal yang belum tentu terjadi. 

Dalam psikologi, pola seperti ini sering berkaitan dengan repetitive negative thinking, yaitu kebiasaan memikirkan hal negatif secara berulang. Studi yang dipublikasikan di Psychological Medicine menjelaskan bahwa pola berpikir negatif berulang memiliki hubungan yang konsisten dengan depresi dan kecemasan pada anak muda.

Anak Muda Sering Overthinking karena Banyak Tekanan?

Anak Muda Sering Overthinking karena Banyak Tekanan?

Salah satu alasan kenapa anak muda sering overthinking adalah karena hidup hari ini terasa lebih bising. Banyak pilihan terlihat terbuka, tetapi di saat yang sama tekanan juga terasa lebih besar. Anak muda dituntut untuk cepat sukses, punya arah hidup yang jelas, mandiri secara finansial, aktif secara sosial, dan tetap terlihat baik-baik saja di depan orang lain.

Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dalam laporan tahun 2026 menyebut kesehatan mental anak muda dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling bertumpuk, mulai dari digitalisasi, kecemasan terhadap masa depan, ketidakpastian ekonomi, tekanan akademik, perundungan, sampai kondisi global yang tidak stabil. Artinya, overthinking pada anak muda tidak bisa dilihat sebagai kebiasaan “terlalu lebay” saja. Ada banyak tekanan sosial dan lingkungan yang membuat pikiran lebih mudah penuh.

Media sosial juga punya peran besar. Saat melihat teman sudah bekerja di tempat impian, punya hubungan yang terlihat bahagia, atau hidup dengan pencapaian tertentu, anak muda bisa merasa tertinggal. Padahal, media sosial hanya menampilkan potongan hidup yang sudah dipilih dan diedit. Dari situ, muncul pertanyaan yang sering bikin kepala ramai, seperti “Aku sudah cukup belum?”, “Kenapa hidupku belum sejauh mereka?”, atau “Kalau gagal, nanti bagaimana?”

Kenapa Anak Muda Sering Overthinking sampai Susah Tidur?

Kenapa Anak Muda Sering Overthinking sampai Susah Tidur?

Overthinking paling sering muncul saat suasana mulai tenang, terutama sebelum tidur. Ketika tubuh berhenti beraktivitas, pikiran justru mengambil alih panggung. Hal kecil yang sebelumnya tidak terasa besar bisa berubah menjadi bahan renungan panjang. Akibatnya, waktu istirahat terganggu dan tubuh bangun dalam kondisi kurang segar.

World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa kesehatan mental berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengelola tekanan hidup, belajar, bekerja, dan menjalani aktivitas secara baik. WHO juga menekankan pentingnya kebiasaan sehat seperti tidur yang cukup, aktivitas fisik, kemampuan mengelola emosi, serta lingkungan yang mendukung untuk menjaga kesehatan mental anak muda.

Saat tidur terganggu, pikiran biasanya lebih mudah sensitif keesokan harinya. Masalah kecil terasa lebih besar, fokus menurun, dan suasana hati jadi lebih mudah berubah. Karena itu, overthinking bukan hanya urusan pikiran, tetapi juga bisa memengaruhi ritme hidup sehari-hari.

Cara Menghadapi Overthinking

Cara Menghadapi Overthinking

Menghadapi overthinking bukan berarti harus memaksa diri untuk langsung berhenti berpikir. Pikiran manusia memang bekerja untuk mencari jawaban, memprediksi risiko, dan melindungi diri. Namun, pikiran perlu diarahkan agar tidak terus-menerus terjebak dalam skenario yang melelahkan.

Langkah yang bisa membantu adalah memberi jarak antara diri sendiri dan pikiran yang muncul. Saat pikiran mulai berputar, coba sadari bahwa tidak semua hal harus langsung dijawab malam itu juga. Menulis isi kepala, mengatur napas, mengurangi paparan media sosial sebelum tidur, berjalan kaki sebentar, atau berbicara dengan orang yang dipercaya bisa membantu pikiran terasa lebih ringan.

Kalau overthinking sudah mengganggu tidur, makan, pekerjaan, hubungan, atau membuat hari-hari terasa berat, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor bisa menjadi pilihan yang sehat. Mencari bantuan bukan tanda lemah, melainkan cara merawat diri dengan lebih sadar.

Baca juga: Air untuk Siram Tanaman Tidak Bisa Asal Pakai, Ini yang Perlu Diperhatikan

Lingkungan Rumah Juga Bisa Bantu Pikiran Lebih Tenang

Overthinking sering terasa makin berat saat tubuh lelah, pikiran penuh, dan suasana rumah kurang mendukung untuk beristirahat. Karena itu, lingkungan rumah yang bersih, nyaman, dan punya rutinitas lebih tertata bisa membantu anak muda merasa lebih rileks setelah menjalani hari yang padat. Hal sederhana seperti mandi dengan nyaman, mencuci pakaian, menyiapkan makanan, hingga membersihkan kamar juga ikut membentuk suasana rumah yang lebih enak untuk ditempati.

Dalam rutinitas tersebut, air punya peran besar karena digunakan hampir di setiap aktivitas harian. Air yang dipakai untuk mandi, memasak, mencuci, dan membersihkan rumah perlu tersimpan dengan baik agar kenyamanan keluarga tetap terjaga. Untuk mendukung kebutuhan itu, tangki air MPOIN dirancang dengan material food grade, BPA free, perlindungan anti-UV, anti lumut, anti jamur, teknologi antimicrobial, serta dilengkapi garansi 50 tahun.

Dengan penyimpanan air yang lebih higienis bersama tangki air MPOIN, aktivitas di rumah bisa terasa lebih nyaman dan menenangkan. Setelah seharian menghadapi banyak pikiran, momen pulang dapat menjadi waktu untuk membersihkan diri, beristirahat, dan mengembalikan energi dengan lebih tenang.

Baca juga: Overachievement di Usia 20-an, Ambisi atau Gengsi?

Previous
Previous

Alasan 14 Mei Jadi Hari Kenaikan Yesus Kristus, Lengkap dengan Sejarah dan Maknanya

Next
Next

Overachievement di Usia 20-an, Ambisi atau Gengsi?