Makna Siraman dalam Pernikahan Jawa: Lebih dari Sekadar Ritual Mandi
Pernikahan adat Jawa dikenal kaya akan simbol dan filosofi. Salah satu prosesi yang paling sakral adalah siraman, sebuah ritual penyucian calon pengantin yang dilakukan sehari sebelum akad nikah.
Meski masih banyak orang yang mengenalnya sebagai “ritual mandi sebelum menikah”, sebenarnya makna siraman jauh lebih dalam dari sekadar membasuh tubuh dengan air dan bunga. Yuk, simak lebih dalam makna siraman dalam pernikahan Jawa dan filosofi air yang tersembunyi di balik setiap percikannya.
Baca Juga: Jaga Silaturahmi Tetap Utuh Lewat Tradisi Idulfitri
Apa Itu Siraman dalam Pernikahan Adat Jawa?
Siraman merupakan bagian dari rangkaian upacara adat Jawa yang biasanya dilakukan sebelum prosesi midodareni. Tradisi ini sendiri telah lama dipraktikkan dalam budaya keraton Yogyakarta dan Surakarta dan hingga kini masih dijalankan oleh banyak keluarga Jawa.
Kata “siraman” berasal dari kata dasar siram yang berarti menyiram air. Dalam konteks pernikahan, siraman melambangkan proses pembersihan diri calon pengantin sebelum memasuki fase kehidupan baru sebagai suami atau istri.
Dalam prosesi siraman, air dipandang sebagai simbol kehidupan dan penyucian. Dalam banyak kebudayaan Nusantara, air juga selalu ikut menjadi medium sakral untuk menandai peralihan tahap hidup seseorang.
Tata Cara dan Urutan Prosesi Siraman
Prosesi siraman umumnya dimulai dengan doa bersama. Calon pengantin duduk di kursi rendah atau dingklik dan mengenakan kain batik dan tanpa riasan berlebihan.
Penyiraman dilakukan oleh orang tua, lalu dilanjutkan oleh para sesepuh atau orang yang dituakan. Jumlah penyiram biasanya ganjil, seperti tujuh atau sembilan orang. Angka tujuh dalam filosofi Jawa sering dikaitkan dengan kata pitulungan (pertolongan), yang berarti doa agar pengantin selalu mendapat perlindungan Tuhan.
Air yang digunakan biasanya telah dicampur dengan bunga setaman, yang terdiri dari melati, mawar, dan kenanga. Bunga-bunga ini melambangkan keharuman nama dan kehidupan rumah tangga yang penuh kebaikan.
Di akhir prosesi, sering dilakukan pemecahan kendi oleh orang tua sebagai simbol bahwa tanggung jawab membimbing anak kini telah dilepas dan sang anak siap membangun rumah tangganya sendiri.
Simbol yang Sarat Makna
Dalam tradisi Jawa klasik, air siraman sering diambil dari tujuh sumber mata air berbeda. Hal ini melambangkan harapan akan keberkahan dari berbagai arah kehidupan.
Namun, di era modern, praktik tersebut tidak selalu memungkinkan. Banyak keluarga kini menggunakan air sumur rumah atau air yang telah difilter untuk memastikan kebersihannya. Di sinilah muncul refleksi menarik, yaitu jika air menjadi simbol penyucian sebelum menikah, maka kualitas air dalam kehidupan setelah menikah pun menjadi sama pentingnya. Karena air bukan hanya simbol ritual. Ia adalah kebutuhan harian yang menentukan kualitas hidup keluarga.
Baca Juga: Dari Sampah ke Listrik
Relevansi Siraman di Era Modern
Siraman bukan sekadar adat turun-temurun. Ia adalah pengingat bahwa pernikahan bukan hanya tentang seremoni indah, tetapi tentang kesiapan mental, spiritual, dan juga kesiapan membangun rumah tangga yang sehat.
Setelah prosesi selesai dan pesta usai, pasangan pengantin akan menjalani kehidupan nyata seperti mengelola rumah, memasak, membersihkan, dan membesarkan anak. Semua aktivitas tersebut bergantung pada satu elemen penting, yaitu air bersih.
Selain itu, tradisi siraman juga mengajarkan tentang kebersihan lahir dan batin. Dalam konteks modern, filosofi itu bisa diterjemahkan menjadi komitmen untuk menjaga kualitas air di rumah.
Dari Ritual ke Realitas Rumah Tangga
Jika sebelum menikah seseorang disucikan dengan air bersih, maka setelah menikah pun kualitas air di rumah menjadi hal yang tak kalah penting. Filosofi siraman mengajarkan tentang kebersihan lahir dan batin. Dalam kehidupan nyata, nilai itu pun bisa diterjemahkan menjadi komitmen untuk menjaga air tetap bersih, aman, dan terlindungi setiap hari.
Karena itu, memilih tangki air dengan perlindungan menyeluruh menjadi langkah bijak bagi keluarga baru.
Seperti MPOIN, yang dirancang dengan perlindungan antimicrobial, teknologi anti-lumut, serta lapisan anti-UV untuk membantu menjaga kualitas air tetap stabil meskipun disimpan dalam waktu lama. Materialnya juga dibuat lebih kokoh hingga 10 kali lebih kuat, serta menggunakan bahan yang ramah lingkungan.
Komitmen MPOIN terhadap tandon atau tangki air yang berkualitas juga dibuktikan dengan garansi hingga 50 tahun, sebagai bentuk jaminan ketahanan jangka panjang.
Karena pada akhirnya, siraman adalah simbol kesiapan membangun rumah tangga yang bersih, sehat. Dan keluarga yang sehat selalu dimulai dari air yang terlindungi dengan baik.
Baca Juga: Berhenti Makan Saat Imsak atau Subuh? Ini jawabannya