Oversharing di Media Sosial Bisa Bahaya, Loh!

Oversharing di Media Sosial Bisa Bahaya, Loh!

Media sosial membuat banyak hal terasa mudah dibagikan. Lagi makan di mana, sedang liburan ke mana, suasana hati hari ini, masalah kerja, atau hubungan pribadi, sampai isi pikiran yang sangat personal bisa muncul dalam story atau unggahan. Berbagi cerita memang wajar, apalagi media sosial sering menjadi tempat untuk mengekspresikan diri dan merasa terhubung dengan orang lain.

Namun, terlalu banyak membagikan hal pribadi atau oversharing bisa membawa risiko yang sering tidak langsung terasa. Dalam studi berjudul “Reducing Privacy Risks in Online Self-Disclosures with Language Models”, dijelaskan bahwa self-disclosure atau pengungkapan informasi diri memang umum terjadi dalam interaksi media sosial, tetapi kebiasaan ini juga membawa risiko privasi bagi pengguna. Jadi, masalahnya bukan sekadar “boleh cerita atau tidak”, melainkan seberapa jauh batas aman yang perlu dijaga.

Apa Itu Oversharing?

Apa Itu Oversharing?

Oversharing adalah kebiasaan membagikan informasi pribadi secara berlebihan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Bentuknya bisa berupa membagikan lokasi rumah, rutinitas harian, kondisi hubungan, masalah keluarga, keluhan pekerjaan, kondisi keuangan, foto dokumen, atau cerita emosional yang terlalu detail.

Masalahnya, media sosial sering terasa seperti ruang pribadi karena yang terlihat hanya teman atau pengikut. Padahal, ruang digital tetap punya kemungkinan tersebar lebih luas. Unggahan bisa di-screenshot, dibagikan ulang, disimpan, atau dibaca oleh orang yang tidak punya kedekatan emosional dengan pemilik cerita.

Risiko Privasi yang Sering Tidak Disadari

Bahaya oversharing sering muncul dari detail kecil yang terlihat sepele. Nama sekolah, area tempat tinggal, nama hewan peliharaan, tanggal ulang tahun, kebiasaan pergi setiap pagi, atau lokasi yang sering dikunjungi bisa menjadi potongan informasi yang bernilai bagi orang lain.

Pada studi berjudul “Neglecting Long-Term Risks: Self-Disclosure on Social Media”, ditemukan bahwa tingkat self-disclosure yang tinggi dalam unggahan media sosial berkaitan dengan kecenderungan mengabaikan risiko jangka panjang. Artinya, orang bisa merasa aman saat mengunggah sesuatu, tetapi belum tentu memikirkan dampaknya beberapa minggu, bulan, atau tahun kemudian.

Terlalu Terbuka Bisa Membuat Emosi Lebih Rentan

Selain privasi, oversharing juga bisa memengaruhi kondisi emosional. Saat cerita pribadi dibagikan terlalu luas, respons orang lain bisa menjadi tekanan baru. Ada komentar yang mendukung, tetapi ada juga komentar yang menghakimi, meremehkan, atau membuat masalah terasa lebih rumit.

Dikutip dari Antara News, Psikolog dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menjelaskan bahwa oversharing di media sosial dapat menimbulkan konsekuensi negatif karena tidak semua orang akan menerima atau menyetujui hal yang dibagikan. Dampaknya juga bisa meluas ke hubungan personal dengan orang lain. Karena itu, cerita pribadi sebaiknya tetap dipilah sebelum masuk ke ruang publik.

Kenapa Orang Tetap Melakukan Oversharing?

Banyak orang melakukan oversharing bukan karena sengaja ingin membuka seluruh hidupnya. Kadang, seseorang hanya ingin merasa didengar, mencari validasi, melepas emosi, atau merasa punya tempat untuk bercerita. Media sosial memberi respons cepat melalui komentar, like, dan pesan pribadi, sehingga seseorang bisa merasa lebih lega sesaat setelah bercerita.

Namun, rasa lega yang cepat tidak selalu berarti aman. Studi tentang privasi dan self-disclosure di media sosial menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap privasi tidak selalu cukup untuk menghentikan seseorang dari kebiasaan berbagi informasi pribadi. Jadi, kesadaran soal batas digital perlu dilatih, bukan hanya dipahami.

Cara Lebih Bijak Berbagi di Media Sosial

Berbagi cerita tetap boleh, asal lebih sadar konteks. Sebelum mengunggah sesuatu, pikirkan apakah cerita itu tetap nyaman jika dibaca rekan kerja, keluarga jauh, orang asing, atau orang yang tidak lagi dekat. Jika jawabannya membuat ragu, cerita itu mungkin lebih aman disimpan atau dibagikan secara langsung kepada orang yang benar-benar dipercaya.

Batas digital juga bisa dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti tidak membagikan lokasi secara langsung, tidak mengunggah dokumen pribadi, tidak membuka konflik keluarga di ruang publik, dan tidak menuliskan detail rutinitas harian terlalu jelas. Media sosial bisa tetap menjadi ruang ekspresi tanpa harus menjadi tempat untuk membuka semua sisi kehidupan.

Baca juga: Badan Licin Setelah Mandi? Cek Kualitas Air di Tangki!

Ruang Pribadi Juga Perlu Dijaga di Rumah

Menjaga batas di media sosial sebenarnya mirip seperti menjaga kenyamanan rumah. Ada ruang yang bisa dilihat tamu, ada juga ruang yang perlu tetap pribadi. Dalam kehidupan harian, tidak semua hal perlu dibuka untuk semua orang. Sebagian hal justru terasa lebih aman ketika disimpan dan dirawat di ruang yang tepat.

Di rumah, rasa aman juga hadir dari hal-hal dasar yang dipakai setiap hari, termasuk air. Air digunakan untuk mandi, memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Karena itu, kualitas air perlu dijaga sejak penyimpanannya agar rutinitas harian terasa lebih nyaman.

Di sinilah tangki air MPOIN punya peran penting dalam menjaga kualitas air di rumah. Dengan material food grade, BPA free, perlindungan anti-UV, anti lumut, anti jamur, teknologi antimicrobial, dan dilengkapi garansi 50 tahun, MPOIN membantu menjaga air tetap lebih higienis untuk kebutuhan harian.

Oversharing mengingatkan bahwa tidak semua hal perlu dibuka ke ruang publik. Sebagian hal perlu dijaga agar hidup terasa lebih aman dan nyaman. Begitu juga dengan kebutuhan rumah, air yang tersimpan lebih higienis dapat membantu keluarga menjalani rutinitas harian dengan lebih tenang.

Baca juga: Ternyata Nangis Juga Termasuk Self-Care, Loh!

Previous
Previous

5 Makanan yang Bisa Bantu Jaga Tubuh dari Risiko Sel Kanker

Next
Next

5 Rekomendasi Cafe Estetik untuk Nongkrong dengan Unsur Air yang Bikin Adem