Apa Itu Hantavirus? Kenali Gejala, Penularan, dan Cara Mencegahnya di Rumah
Hantavirus belakangan kembali ramai dibicarakan karena berkaitan dengan penyakit yang ditularkan dari hewan pengerat, terutama tikus dan curut. Meski namanya terdengar asing bagi sebagian orang, hantavirus bukan penyakit baru. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menjelaskan bahwa hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat dan dapat menyebabkan penyakit berat pada manusia, tergantung jenis virus dan kondisi pasien.
Di Indonesia, perhatian terhadap hantavirus juga meningkat setelah Kementerian Kesehatan mencatat 23 kasus terkonfirmasi hantavirus dalam periode 2024 sampai minggu ke-16 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di sembilan provinsi dengan tiga kematian, sementara kasus konfirmasi di Indonesia mengarah pada Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome atau HFRS strain Seoul virus.
Hantavirus Menular Lewat Apa?
Hantavirus bukan penyakit yang penularannya sama seperti flu biasa. Penularan utama hantavirus terjadi ketika manusia terpapar urine, kotoran, air liur, atau sarang tikus yang terinfeksi. Risiko bisa muncul saat debu dari kotoran tikus beterbangan lalu terhirup, terutama ketika seseorang membersihkan gudang, dapur, plafon, halaman, atau area rumah yang lama tidak dibersihkan. Dilansir dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus dapat masuk ke tubuh melalui udara yang terkontaminasi, luka pada kulit, atau area mata, hidung, dan mulut yang terkena partikel dari hewan pengerat.
Karena itu, hantavirus sangat dekat dengan gaya hidup dan kebersihan rumah. Rumah yang terlihat rapi belum tentu bebas risiko jika masih ada celah masuk tikus, sisa makanan terbuka, tumpukan barang tidak terpakai, atau tempat lembap yang jarang diperiksa. Tikus bisa hidup di area yang tidak langsung terlihat, seperti belakang lemari, sela dapur, plafon, saluran air, hingga sudut gudang.
Gejala Hantavirus yang Perlu Diwaspadai
Gejala hantavirus bisa mirip dengan penyakit infeksi lain, sehingga sering tidak langsung dikenali. WHO menyebut gejala awal hantavirus dapat muncul dalam rentang satu sampai delapan minggu setelah paparan, bergantung pada jenis virusnya. Gejala yang bisa muncul antara lain demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri perut, mual, dan muntah. Pada kondisi berat, penyakit dapat berkembang menjadi gangguan paru atau gangguan ginjal.
Untuk tipe HPS atau Hantavirus Pulmonary Syndrome, pasien dapat mengalami batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, hingga syok. Sementara pada HFRS, gejala berat bisa mengarah pada tekanan darah rendah, gangguan perdarahan, dan gangguan fungsi ginjal. Karena gejala awalnya tidak khas, riwayat paparan tikus atau lingkungan yang berisiko menjadi informasi penting ketika seseorang memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Cara Mencegah Hantavirus dari Lingkungan Rumah
Pencegahan hantavirus dimulai dari mengurangi kontak manusia dengan tikus. WHO menyarankan rumah dan tempat kerja dijaga tetap bersih, celah bangunan ditutup agar tikus tidak mudah masuk, makanan disimpan dengan aman, serta area yang terkontaminasi kotoran tikus dibersihkan dengan cara yang aman. WHO juga mengingatkan agar kotoran tikus tidak dibersihkan dengan menyapu kering atau menggunakan vacuum cleaner karena tindakan tersebut dapat membuat partikel berisiko beterbangan.
Dalam kehidupan sehari-hari, langkah sederhana bisa dimulai dari kebiasaan membuang sampah secara rutin, menutup tempat sampah, menyimpan bahan makanan dalam wadah tertutup, membersihkan sisa makanan di dapur, dan tidak membiarkan tumpukan kardus menjadi tempat persembunyian tikus. Area rumah yang jarang disentuh, seperti gudang, garasi, plafon, dan saluran air, juga perlu diperiksa secara berkala.
Baca juga: Air Beras untuk Kulit Cerah, Benarkah Ampuh atau Cuma Tren?
Rumah Bersih Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Membahas hantavirus bukan berarti harus panik. Justru, isu ini bisa menjadi pengingat bahwa kesehatan keluarga sangat dekat dengan kebiasaan harian di rumah. Udara yang bersih, dapur yang rapi, makanan yang tersimpan aman, dan lingkungan yang tidak ramah bagi tikus adalah bagian dari gaya hidup sehat yang sering terlupakan.
Selain menjaga area rumah dari tikus, kualitas air harian juga perlu diperhatikan. Air dipakai untuk mandi, mencuci, membersihkan peralatan makan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga. Karena itu, tempat penyimpanan air sebaiknya tidak hanya kuat, tetapi juga mampu membantu menjaga air tetap lebih higienis sebelum digunakan.
Di sinilah tangki air MPOIN punya peran penting dalam menjaga kualitas air di rumah. Dengan material food grade, BPA free, perlindungan anti-UV, anti lumut, anti jamur, teknologi antimicrobial, dan dilengkapi garansi 50 tahun, tangki air MPOIN membantu menjaga air tetap lebih higienis untuk kebutuhan harian. Rumah yang lebih sehat bukan hanya soal bebas debu, tetapi juga soal bagaimana air keluarga tersimpan dengan lebih aman, bersih, dan nyaman digunakan setiap hari.
Baca juga: Baca juga: 5 Makanan yang Bisa Bantu Jaga Tubuh dari Risiko Sel Kanker