Kombucha Minuman Fermentasi Kekinian
Beberapa tahun terakhir, dunia minuman di Indonesia selalu menunjukkan tren yang positif. Mulai dari tren kopi hingga sekarang, matcha. Tak hanya minuman yang menonjolkan nilai rasa ataupun estetika, minuman kesehatan juga memiliki trennya sendiri, salah satunya kombucha.
Minuman fermentasi dengan rasa asam segar ini mulai sering muncul di kafe, supermarket, hingga konten lifestyle para influencer. Banyak yang menyebut kombucha sebagai minuman probiotik kekinian yang baik untuk pencernaan, bahkan ada yang menganggapnya sebagai alternatif soda yang lebih sehat.
Namun, di balik tren viralnya, kombucha sebenarnya bukan minuman baru. Kombucha sudah lama dikenal di berbagai negara sebagai minuman fermentasi tradisional yang dipercaya punya manfaat untuk tubuh, terutama untuk kesehatan pencernaan.
Apa Itu Kombucha?
Secara sederhana, kombucha adalah teh yang difermentasi. Biasanya dibuat dari teh hitam atau teh hijau yang dicampur dengan gula, lalu difermentasi menggunakan SCOBY, singkatan dari Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast. SCOBY ini bentuknya seperti lapisan kenyal yang sering disangka jamur, padahal sebenarnya ia adalah koloni bakteri baik dan ragi yang bekerja bersama.
Saat fermentasi berlangsung, SCOBY akan memecah gula menjadi berbagai senyawa alami, termasuk asam organik dan gas. Inilah yang membuat kombucha terasa lebih kompleks dibanding teh biasa. Ada rasa asam ringan, aroma khas, dan kadang terasa seperti soda alami yang lembut.
Karena proses fermentasi ini, kombucha sering disebut sebagai minuman fungsional, yaitu minuman yang bukan hanya menyegarkan, tetapi juga punya potensi manfaat kesehatan.
Baca Juga: Cara Kerja Teknik Napas 4-7-8 untuk Mengurangi Stres Harian
Apa Isi Kombucha?
Yang membuat kombucha menarik bukan hanya rasanya, tetapi juga kandungan yang terbentuk selama fermentasi. Kombucha mengandung probiotik alami, yaitu mikroorganisme baik yang dapat mendukung kesehatan usus. Selain itu, ada juga asam organik seperti asam asetat yang menciptakan rasa asam segar khas kombucha.
Karena bahan dasarnya adalah teh, kombucha juga membawa antioksidan yang berasal dari daun teh. Dalam beberapa kondisi fermentasi, kombucha bahkan dapat mengandung vitamin B dalam jumlah kecil. Gula yang awalnya digunakan juga sebagian besar akan berkurang karena sudah diproses oleh ragi dan bakteri.
Hal yang jarang diketahui adalah kombucha bisa mengandung jejak alkohol ringan akibat fermentasi. Biasanya kadarnya sangat kecil, tetapi tetap ada, terutama jika kombucha difermentasi terlalu lama.
Dampak Kombucha untuk Tubuh
Banyak orang mulai rutin meminum kombucha karena percaya minuman ini punya efek positif untuk tubuh, terutama dalam hal pencernaan. Hal ini cukup masuk akal karena kombucha mengandung probiotik alami yang berperan dalam menjaga keseimbangan mikrobioma usus.
Jika dikonsumsi dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan, kombucha berpotensi memberikan beberapa manfaat berikut:
Mendukung kesehatan pencernaan
Probiotik membantu menjaga keseimbangan bakteri baik di usus, sehingga pencernaan bisa terasa lebih lancar dan nyaman.
Membantu menjaga daya tahan tubuh
Kondisi saluran cerna yang sehat sering berkaitan erat dengan sistem imun yang lebih stabil.
Mengandung antioksidan dari teh
Kombucha berbahan dasar teh hitam atau hijau, sehingga tetap membawa kandungan antioksidan yang membantu melawan radikal bebas.
Memberi sensasi segar sebagai pengganti minuman manis
Kombucha bisa menjadi alternatif minuman dibandingkan dengan soda atau minuman tinggi gula, terutama jika kadar gulanya rendah.
Namun, perlu dipahami juga bahwa manfaat kombucha bisa berbeda pada tiap orang. Kombucha bukan obat, melainkan minuman fermentasi yang dapat menjadi pelengkap pola hidup sehat jika dikonsumsi dengan bijak.
Baca Juga: Bahaya Skincare Non BPOM: Jangan Tergiur Cepat Glowing, Ini Risikonya
Apakah Kombucha Aman?
Walaupun terlihat sehat, kombucha bukan minuman yang bisa dikonsumsi sembarangan. Pada sebagian orang, kombucha dapat menyebabkan perut kembung atau rasa tidak nyaman karena sifatnya yang asam dan mengandung gas hasil fermentasi. Bagi orang yang sensitif terhadap asam, kombucha juga berpotensi memicu naiknya asam lambung.
Selain itu, ada faktor higienitas yang perlu diperhatikan. Ini karena jika kombucha dibuat tanpa standar kebersihan yang baik, ia beresiko terkontaminasi oleh mikroorganisme yang tidak diinginkan. Inilah alasan kenapa kombucha sebaiknya dikonsumsi dari produk terpercaya atau dibuat dengan prosedur yang benar.
Untuk pemula, konsumsi kombucha sebaiknya dimulai dari porsi kecil, misalnya 100–150 ml per hari. Kelompok seperti ibu hamil, penderita maag berat, atau orang dengan imun rendah sebaiknya berkonsultasi terlebih dulu sebelum mengonsumsi secara rutin.
Kombucha dan Air Bersih
Satu hal yang sering luput dari pembahasan kombucha adalah kualitas kombucha sangat dipengaruhi oleh kualitas air. Jika kombucha dibuat di rumah, air yang tidak higienis bisa memengaruhi rasa, aroma, bahkan meningkatkan risiko kontaminasi selama fermentasi.
Fermentasi adalah proses yang sensitif. Sedikit saja air mengandung bakteri, endapan, atau kualitas yang kurang baik, hasil kombucha bisa berubah dan tidak lagi aman dikonsumsi. Karena itu, air bersih bukan hanya penting untuk minum sehari-hari, tetapi juga penting untuk mendukung gaya hidup sehat seperti membuat kombucha, infused water, atau minuman rumah lainnya.
Di sinilah pentingnya sistem penyimpanan air yang benar. Menggunakan tandon atau tangki air berkualitas seperti MPOIN dapat membantu menjaga air rumah tetap higienis dan aman, sehingga kebutuhan konsumsi keluarga lebih terjamin. Air yang disimpan dengan baik bukan hanya membuat rasa minuman lebih segar, tetapi juga mendukung kesehatan jangka panjang.
Baca Juga: Bagaimana Perubahan Iklim Memengaruhi Kualitas Air?