Jangan Anggap Sepele, Ini Penyakit Akibat Banjir yang Sering Terjadi

Banjir sering kali dianggap sebagai masalah sementara. Banyak yang merasa saat air surut, masalah sudah selesai dan hanya tinggal membersihkan rumah. Nyatanya, ada satu hal yang sering luput dari perhatian, yaitu dampak kesehatan yang muncul setelahnya.

Padahal, menurut berbagai laporan kesehatan global termasuk dari WHO, banjir dapat meningkatkan risiko penyakit menular akibat terganggunya sistem sanitasi dan tercemarnya sumber air bersih.

Air banjir bukan sekadar air hujan yang menggenang. Ia sering bercampur dengan limbah rumah tangga, kotoran hewan, air selokan, hingga rembesan septic tank. Kombinasi inilah yang menjadikan banjir sebagai media penyebaran berbagai bakteri, virus, dan parasit berbahaya.

Baca Juga: Sikat Gigi Membatalkan Puasa? Ini Penjelasannya

Penyakit yang Sering Muncul Setelah Banjir

Beberapa penyakit yang sering terjadi pasca banjir, yaitu:

  • Diare dan Tifoid

Diare menjadi kasus paling umum yang ditemui setelah banjir. Penyebabnya adalah bakteri seperti E. coli atau Salmonella yang mencemari air minum dan makanan. Ketika sumber air bersih tercampur dengan air limbah, resiko infeksi meningkat drastis. Gejalanya meliputi buang air besar berulang, lemas, hingga dehidrasi.

  • Leptospirosis

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Leptospira yang berasal dari urine tikus. Bakteri dapat masuk melalui luka kecil di kulit saat seseorang berjalan atau membersihkan rumah yang terendam banjir. Gejala awalnya sering menyerupai flu: demam, nyeri otot, dan sakit kepala. Jika tidak ditangani, leptospirosis bisa berdampak serius pada ginjal dan hati.

  • Hepatitis A

Virus hepatitis A bisa menyebar melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Dalam kondisi banjir, kebersihan yang sulit dijaga menjadikan resiko penularan meningkat. Gejala biasanya berupa mual, muntah, demam, dan kulit menguning.

  • Demam Berdarah (DBD)

Setelah air surut, genangan kecil yang tersisa bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti. Peningkatan kasus DBD kerap terjadi beberapa minggu setelah banjir. Ini sering tidak disadari karena fokus masyarakat sudah beralih pada perbaikan rumah.

  • Infeksi Kulit dan Jamur

Lingkungan lembap dan air kotor dapat menyebabkan gatal, ruam, hingga infeksi jamur. Anak-anak dan lansia termasuk kelompok yang paling rentan.

Mengapa Risiko Penyakit Meningkat?

Banjir menyebabkan sistem sanitasi terganggu. Septic tank dapat meluap dan mencemari tanah maupun sumber air di sekitar. Pipa distribusi air bersih beresiko kemasukan kontaminan. Bahkan tangki atau tandon air rumah tangga pun dapat ikut tercemar jika tidak tertutup rapat atau tidak memiliki perlindungan terhadap cahaya dan pertumbuhan mikroorganisme.

Dalam kondisi normal saja, kualitas air sangat menentukan kesehatan keluarga. Apalagi setelah banjir, ketika potensi kontaminasi meningkat berkali lipat. Inilah sebabnya menjaga kebersihan sumber dan tempat penyimpanan air menjadi langkah krusial.

Baca Juga: MPASI Homemade vs Instan: Mana yang Lebih Baik untuk Si Kecil?

Cara Mencegah Penyakit Pasca Banjir

Ada beberapa langkah sederhana namun penting yang bisa dilakukan:

  • Pastikan air minum sudah direbus hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

  • Cuci bersih peralatan makan dengan air matang atau air yang sudah dipastikan aman.

  • Gunakan sarung tangan dan sepatu boots saat membersihkan sisa lumpur dan genangan.

  • Segera keringkan area rumah untuk mencegah pertumbuhan jamur dan bakteri.

  • Buang genangan air kecil di sekitar rumah agar tidak menjadi sarang nyamuk.

  • Periksa kondisi septic tank dan saluran pembuangan untuk memastikan tidak ada kebocoran.

Selain itu, penting untuk memperhatikan kualitas tempat penyimpanan air di rumah. Tangki air yang mudah ditumbuhi lumut atau terpapar sinar matahari langsung berisiko mempercepat pertumbuhan mikroorganisme.

Langkah-langkah ini terlihat sederhana, tetapi sangat efektif menurunkan risiko infeksi saluran cerna, leptospirosis, hingga demam berdarah.

Air Bersih adalah Pertahanan Pertama

Banjir memang sulit dihindari, terutama di wilayah dengan curah hujan tinggi. Namun, dampak kesehatannya bisa diminimalkan dengan pengelolaan air yang tepat. Memastikan air yang digunakan keluarga tetap bersih dan terlindungi adalah bentuk pencegahan paling dasar namun paling efektif.

Di sinilah pentingnya memilih tangki air yang dirancang untuk menjaga kualitas air tetap stabil. Seperti tandon atau tangki air MPOIN yang dilengkapi dengan lapisan anti-UV, anti lumut, dan anti mikroba untuk membantu menjaga kualitas air tetap higienis lebih lama. Dirancang dengan struktur tangki yang 10 kali lebih kuat dan didukung garansi hingga 50 tahun sebagai komitmen jangka panjang terhadap ketahanan produk. Karena setelah banjir surut, perlindungan terbaik bukan hanya membersihkan rumah, tetapi memastikan air yang digunakan keluarga tetap aman setiap hari.

Baca Juga: Privasi, Hoaks, dan Risiko AI: Panduan Literasi Digital untuk Keluarga Modern

Previous
Previous

Kenapa Ide Brilian Muncul Saat di Kamar Mandi? Ini Alasannya

Next
Next

Kenapa Tangki Air Sering Disebut Toren Atau Tandon?